Karya/ Artikel/ Inovasi Guru

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA “KOORDINAT KARTESIUS TRANSPARAN” BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING MATERI GEOMETRI TRANSFORMASI

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA “KOORDINAT KARTESIUS TRANSPARAN” BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING MATERI GEOMETRI TRANSFORMASI

Jumat, 10 Juli 2026 14:24 WIB
2 |   -

Nur Kholifah, 
SMPN 1 Sumbergempol, Jl. Raya Sumbergempol No.30, Selojeneng, Sumberdadi, Kec. Sumbergempol, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66291 


Pendahuluan

Peraturan Mendikbud No. 103 Tahun 2014 dan Peraturan Mendikbud No. 22 Tahun 2016 tentang standar proses beserta lampirannya telah mengatur terkait pelaksanaan kurikulum 2013 di sekolah. Dalam lampiran tersebut dinyatakan tentang konsep dasar mengenai proses pembelajaran dimana peserta didik dipandang sebagai subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkontsruksi dan menggunakan pengetahuan. Peserta didik dimotivasi untuk memahami materi yang disampaikan agar dapat memcahkan masalah. Dalam hal ini pemilihan model pembelajaran menjadi alternatife pembelajaran. Guru dapat memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajarannya (Rusman, 2013). Dalam peraturan Mendikbud No. 103 Tahun 2014 menyatakan bahwa beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan dalam kurikulum 2013 antara lain discovery learning, problem based learning (PBL), project based learning (PjBL), inquiry based learning sesuai dengan menggunakan pendekatan saintifik yaitu 5M (mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, mengkomunikasikan) (Sofyan, H., & Komariah, 2016). 

Karakteristik pembelajaran berbasis masalah Rusman (2014) sebagai berikut: 
1. Berorientasi pada masalah;
2. Permasalahan yang tidak terstruktur, permasalahan yang memerlukan perspektif ganda, permasalahan yang menantang pemahaman, sikap dan kompetensi peserta didik  
3. Memanfaatkan sumber pengetahuan yang beragam,  
4. Penggunaannya dan evaluasi sumber informasi merupakan proses yang esensial dalam PBM,
5. Belajar merupakan tindakan kolaboratif, komunikasi dan kooperatif, pengembangan keterampilan inquiry,  
6. Kemampuan pemecahan masalah dan penguasaan isi pengetahuan sama pentingnya untuk mencari sebuah solusi dari permasalahan,  
7. Keterbukaan proses dalam PBM meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar,
8. PBM melibatkan proses evaluasi dan review pengalaman peserta didik dan proses belajar.  

Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang berbasis masalah yang digunakan untuk memberikan stimulus peserta didik untuk menyusun hipotesis, mengumpulkan maupun mencari informasi relevan melalui diskusi kelompok untuk memperoleh solusi dari permasalahan (Suyatno, 2009). Untuk itu PBL dapat digunakan sebagai alternatif dalam memilih model pembelajaran. 

SMPN 1 Sumbergempol telah menerapkan kurikulum 2013 sejak tahun 2016. Namun dalam pelaksanaannya belum secara maksimal terlaksana dengan baik sehingga muncul permasalahan. Adapun beberapa permasalahan yang muncul berkaitan dengan pembelajaran, penilaian dan belum maksimal penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil observasi peneliti dengan beberapa guru matematika menyatakan bahwa beberapa guru masih bersifat konvensional, guru mengajar dengan menerangkan dan memberikan tugas sementara peserta didik hanya duduk mendengarkan dan mengerjakan tugas, guru belum menggunakan media pembelajaran yang dapat membantu mempermudah proses pembelajaran, guru jarang memberikan waktu atau meminta peserta didik untuk menyelesaikan maupun mendiskusikan suatu masalah sehingga peserta didik kurang memiliki motivasi belajar dan belum munculnya sikap berpikir kreatif pada peserta didik.

Hasil wawancara terhadap guru menyatakan bahwa guru mengalami kesulitan saat memilih atau membuat media pembelajaran yang sesuai dengan materi tertentu. Hasil wawancara dengan peserta didik menyatakan bahwa peserta didik merasa pelajaran yang selama ini disajikan oleh guru menggunakan metode ceramah. Data hasil observasi dengan guru mata pelajaran matematika di SMPN 1 Sumbergempol disajikan dalam tabel 1 berikut. 

Pembelajaran matematika merupakan suatu usaha dalam membantu peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan melalui proses pembelajaran (Afifah, 2012). Pembelajaran merupakan proses untuk membelajarkan peserta didik. Tujuan dari pembelajaran yaitu bagaimana peserta didik memahami materi yang dipelajari (Wibowo, 2015). Untuk itu media pembelajaran merupakan salah satu factor yang berperan penting dalam pembelajarn. Media pembelajaran merupakan alat bantu yang dapat digunakan dalam mendukung pelaksanaan pembelajaran. Media pembelajaran dapat berupa alat maupun bahan mengajar. Dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan media pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam memahami materi dengan baik dan maksimal (Wicaksono, 2016). 

Media pembelajaran merupakan salah satu alat bantu yang dapat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran, (Permendikbud, 2006). Pengunaan media pembelajaran dapat membantu pembelajaran lebih efektif, menyampaikan pesan dan isi pembelajaran kepada peserta didik (Arsyad 2010). Selain itu juga memiliki peran dalam menumbuhkan dan meningktakan minat dan motivasi peserta didik, serta membantu meningkatkan pemahaman. 

Salah satu materi yang harus dipelajari oleh siswa SMP dalam pembelajaran matematika adalah geometri transformasi. Materi Geometri transformasi dapat memberikan kesempatan peserta didik dalam berpikir terkait konsep  simetri, fungsi dan sebagainya,. Selain itu memungkinkan peserta didik terlibat pada aktivitas yang menggunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, menyediakan konteks yang membuat peserta didik berpikir dan menyadari bahwa geometri transformasi melibatkan berbagai disiplin ilmu (Hollebrands, 2003). Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa geometri transformasi harus dikuasai dan dipelajari oleh peserta didik. Akan tetapi peserta didik saat ini masih ada beberapa yang memiliki kendala dalam mempelajari geometri transformasi. 

Untuk itu peneliti memilih media pembelajaran yang berupa koordinat kartesius transparan sebagai salah satu alternatif media pembelajaran berupa koordinat kartesius yang terbuat dari bahan plastik transparan. Media pembelajaran tersebut diharapkan dapat mempermudah peserta didik dalam memahami dan mengkonstruksi pemahaman dan pengetahuannya dalam mempelajari geometri trnasfoemasi.. Dalam pembelajaran ini peserta didik dapat terlibat secara langsung dalam pembelajaran dengan mengamati, bertanya, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penerapan model problem based learning pada materi koordinat kartesius dapat memperbaiki proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar (Sitiana & Rezeki, 2020). Berdasarkan uraian di atas penulis membuat pengembangan media pembelajaran yang bertajuk pengembangan media pembelajaran matematika koordinat kartesius transparan berbasis PBL materi transformasi geometri dengan tujuan meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik. 

Metode 

Penelitian pengembangan media koordinat kartesius transparan berbasis problem based learning menggunakan model penelitian pengembangan ADDIE. Adapun tahapan ADDIE yang dilakukan dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 2 berikut. 

Instrumen pengumpulan data yang dikembangkan yaitu angket yang tediri dari angket validasi ahli media, ahli materi, ahli pembelajaran, dan angket penilaian peserta didik guru dan tes hasil belajar. Angket validasi ahli media, angket validasi ahli materi dan angket validasi ahli pembelajaran digunakan untuk mengetahui kevalidan dan kepraktisan media pembelajaran. Angket penilaian peserta didik dan guru dan tes evaluasi untuk mengetahui efektivitas media pembelajaran koordinat kartesius transparan. 

Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa saran dari para ahli media dan ahli materi yang digunakan sebagai pertimbangan untuk evaluasi produk hasil pengembangan media pembelajaran. Data kuantitatif berupa hasil angket dari ahli media, ahli materi, ahli pembelajaran, dan praktisi dan peserta didik. Analisis data kuantitatif untuk menguji kevalidan (dari angket ahli media dan ahli materi), kepraktisan (dari angket ahli media dan praktisi) dan keefektivan (dari soal tes hasil belajar) dari media hasil pengembangan.  

Hasil dan Pembahasan 

Model pengembangan media pembelajaran yang digunakan yaitu model ADDIE. Berikut merupakan hasil dan proses pengembangan pada setiap tahap. 
Analisis (Analysis
Berdasarkan hasil diskusi dan interview dengan guru matematika khususnya yang mengampu di kelas IX SMPN I Sumbergempol Tulungagung diperoleh informasi : 
a. Mayoritas peserta didik kesulitan memahami materi transformasi geometri dikarenakan peserta didik tidak mampu menerjemahkan bayangan dalam betuk visual nyata.
b. Perlu membuat terobosan yang bisa membuat materi transformasi geometri menarik untuk dipelajari oleh peserta didik
c. Menggunakan media pembelajaran untuk memudahkan peserta didik memahami materi Transformasi Geometri yaitu dengan media koordinat kartesius transparan.
d. Data hasil penilaian harian materi transformasi geometri, peserta didik yang mencapai ketuntasan belajar hanya mencapai 53,94% 
Desain (Design
a. Tahap pembuatan media koordinat kartesius transparan yang digunakan oleh peserta didik Persiapan awal dalam membuat media koordinat kartesius transparan adalah dengan menggambar koordinat kartesius pada laptop dengan menggunakan program microsoft word. 

b. Tahap pembuatan media koordinat kartesius transparan yang digunakan oleh guru Langkah pertama yang dilakukan dalam pembuatan media ini dengan menggambar sumbu koordinat (garis horizontal sebagai sumbu x  dan garis vertikal sebagai sumbu y tepat di tengah plastik transparan. Selanjutnya digambar garis-garis horizontal dan vertikal sehingga terbentuk koordinat kartesius yang dilengkapi dengan penomoran pada garis bilangannya. 

c. Tahap penggunaan media koordinat kartesius transparan 
Cara menggunakan media koordinat kartesius transparan adalah sebagai berikut: 
1) Pada translasi 
Misalkan sebuah  ∆ 𝐴𝐵𝐶  ditranslasikan 5 kotak satuan ke kanan, dilanjutkan 1 kotak satuan ke atas, yang pertama dilakukan adalah menyiapkan 2 (dua) segitiga kongruen dengan warna berbeda,. Misalkan ∆ 𝐴𝐵𝐶  dengan warna merah dan satunya dengan warna biru yang merupakan bayangan dari ∆ 𝐴𝐵𝐶  setelah ditranlasikan. Bayangan ∆ 𝐴𝐵𝐶  dinamakan  ∆ 𝐴′𝐵′𝐶′. ∆ 𝐴𝐵𝐶  diletakkan di bawah koordinat kartesius transparan, sedangkan   ∆ 𝐴′𝐵′𝐶′  diletakkan diatas koordinat kartesius transparan, kemudian digeser sejauh 5 satuan kekakan dan dilanjutkan 1 satuan ke atas. 

2) Pada refleksi 
Misalkan sebuah persegi panjang   𝑃𝑄𝑅𝑆  direfleksikan terhadap 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑢 𝑌, yang pertama dilakukan adalah menyiapkan 2 (dua) persegi panjang kongruen dengan warna berbeda, misalkan 𝑃𝑄𝑅𝑆  dengan warna hijau dan satunya dengan warna kuning yang merupakan bayangan dari 𝑃𝑄𝑅𝑆  setelah direfleksikan terhadap 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑢 𝑌. Bayangan 𝑃𝑄𝑅𝑆  dinamakan  𝑃′𝑄′𝑅′𝑆′. 𝑃𝑄𝑅𝑆  dan 𝑃′𝑄′𝑅′𝑆′. Berimpit dan diletakkan di atas koordinat kartesius transparan, koordinat kartesius transparan dilipat dengan pusat lipatan sepanjang 𝑠𝑢𝑚𝑏𝑢 𝑌, sehingga persegipanjang 𝑃′𝑄′𝑅′𝑆′  akan berpindah tempat. 

3) Pada rotasi 
Misalkan sebuah bangun segi lima   𝐴𝐵𝐶𝐷𝐸  dirotasikan sejauh 90𝑜 (berlawanan arah jarum jam) dengan pusat titik 𝑂(0 ,0), yang pertama dilakukan adalah menyiapkan 2 (dua) segi lima 𝐴𝐵𝐶𝐷𝐸 kongruen dengan warna berbeda, misalkan 𝐴𝐵𝐶𝐷𝐸  dengan warna hijau dan satunya dengan warna pink yang merupakan bayangan dari 𝐴𝐵𝐶𝐷𝐸  setelah dirotasikan sejauh 90𝑜. Letakkan  𝐴𝐵𝐶𝐷𝐸  dsedangkan bayangannya lekatkan di atas busur transparan, dengan syarat pusat busur transparan berimpit dengan pusat koordinat kartesius transparan dan juga bangun segilima berimpit, lalu diputar sejauh 90𝑜 searah jarum jam. 

4) Pada dilatasi 
Sudah disebutkan dalam spesifikasi produk dan asumsi keterbatasan penelitian bahwa media koordinat kartesius transparan tidak efektif jika digunakan pada submateri dilatasi

Pengembangan (Development
Hasil pengembangan media pembelajaran seperti pada tabel 3 berikut. 

Implementasi (Implementation)
Media pembelajaran koordinat kartesius transparan yang telah dikembangkan selanjutnya diimplementasikan kepada peserta didik SMPN 1 Sumbergempol Tulungagung tahun pelajaran 2021/2022. Pertama uji coba produk. Kegiatan ini diikuti oleh 6 guru matematika di SMPN 1 Sumbergempol dengan tujuan memperoleh masukan dan saran terkait bagaimana jika media koordinat kartesius transparan ini diimplementasikan ke peserta didik dalam suatu kegiatan pembelajaran. Pada uji coba ini diperoleh kesimpulan bahwa media koordinat kartesius transparan layak untuk digunakan pada materi transformasi geometri. 

Media koordinat kartesius transparan diuji cobakan secara acak dari 5 kelas kepada 10 peserta didik. Pada uji coba ini diperoleh kesimpulan bahwa media koordinat kartesius transparan menarik, mudah digunakan, aman dan lebih mudah dalam mengingat konsep pada materi transformasi geometri. Berikutnya produk media kartesius diujicobakan dalam skala besar. Uji coba skala besar diikuti oleh 32 peserta didik yaitu kels IX-A dengan skenario pembelajaran sebanyak 3 kali pertemuan. Berikut tujuan pembelajaran pada materi transformasi dipaparkan seperti tabel 4 : 
Evaluasi (evaluation)
Evaluasi dilaksanakan sejak awal penelitian dan dalam proses penelitian yang bertujuan untuk menghasilkan media yang baik dan layak digunakan serta memperbaiki kekurangan yang ada. Setelah tahap pengembangan media, kegiatan evaluasi dilakukan dengan melakukan validasi media kepada ahli media, ahli materi, ahli pembelajaran, serta praktisi. Evaluasi dilaksanakan pada tahap implementasi setelah uji coba kepada peserta didik di sekolah.  

Data hasil belajar peserta didik 
Hasil belajar peserta didik pada uji coba seperti tabel 5 berikut. 


Dari data hasil tes yang dilakukan, maka peneliti melakukan analisis yang bertujuan untuk mendeskripsikan hasil belajar peserta didik. Dari hasil analisis tersebut kemudian peneliti melakukan pemetaan terhadap ketercapaian hasil belajar peserta didik sebelum dan sesudah dilakukan pembelajaran yang menggunakan media. Rata-rata hasil belajar peserta didik pada tahap pembelajaran 1 adalah 81,875.  Pada tahap pembelajaran 2 didapatkan nilai rata-rata yaitu 84,063. Pada tahap pembelajaran 3 nilai rata-rata yaitu 86,719. Hasil Tes ke 1 dan hasil tes 2 menunjukkan masih ada yang belum tuntas. Sedangkan Berdasarkan hasil tes ke 3 menunjukkan sudah tuntas semua, karena nilai yang diperoleh di atas KKM sekolah yaitu 70. 

Kesimpulan 

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diperoleh nilai rata-rata peserta didik setelah memanfaatkan media pada pembelajaran 1, 2, dan 3 berturut-turut 81,875, 84,063 dan 86,719. Dengan demikian nilai rata-rata peserta didik secara keseluruhan adalah 84,271. Rata-rata nilai tersebut di atas nilai KKM yaitu 70 sehingga media pembelajaran yang digunakan efektif untuk digunakan dalam pembelajaran di kelas. Dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ini layak digunakan dalam pembelajaran matematika pada materi transformasi geometri. 

Daftar Pustaka 

Afifah, D. S. N. (2012). Interaksi Belajar Matematika Siswa Dalam Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Pedagogia: Jurnal Pendidikan, 1(2), 145. https://doi.org/https://doi.org/10.21070/ pedagogia.v1i2.37 

Arsyad, A. (2010). Media Pembelajaran. PT Raja Grafindo Persada. 

Hollebrands, K. F. (2003). High School Student’s Understanding of Geometric Transformation in The Context of a Technological Environment. Journal of Mathematical Behavior, 22(1), 55–72. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/S0732-3123(03)00004-X 

Permendikbud. (n.d.). Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses. 2016. 

Rusman. (2013). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru 2. Rajawali Pers. 

Rusman. (2014). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Raja Grafindo Persada. 

Sitiana, E., & Rezeki, S. (2020). Problem-Based Learning pada Materi Koordinat Kartesius: Suatu Tindakan pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pangkalan Lesung. Jurnal Aksiomatik, 8(1), 4450. https://doi.org/10.25299 / 3965 

Sofyan, H., & Komariah, K. (2016). Pembelajaran Problem Based Learning dalam Implementasi Kurikulum 2013 di SMK. Jurnal Pendidikan Vokasi, 6(3), 263. https://doi.org/https://doi.org/ 10.21831/jpv.v6i3.11275 

Suyatno. (2009). Penjelajah Pembelajaran Inovatif. Masmedia Buana Pustaka. 

Wibowo, D. (2015). Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal di Sekolah (Konsep, Strategi, dan Implementasi). Pustaka Pelajar. 

Wicaksono, S. (2016). The Development of Interactive Multimedia Based Learning Using Macromedia Flash In Accounring Course. Journal of Accounting and Business Education, 1(1), 122–139. https://doi.org/10.26675/jabe.v1i1.6734 


Komentar

×
Berhasil membuat Komentar
×
Komentar anda masih dalam tahap moderator
1000
Karakter tersisa
Belum ada komentar.

Jadilah yang pertama berkomentar di sini